Shocking Monday!!! (Oh, Abyan!)

Copas and save my diary ::
Monday, June 15, 2015.
07.15 WIB

Pagi ini, anak sekolah pada libur. Jadi aku sok santai aja buat masak dan cuci baju. Masuk nguli masih jam 08.00 nanti, dan suami uda seneng aja kalo molor lama. *sigh
Abyan bermain sendiri di ruang tamu dan berteriak-teriak memanggil nama Bunda. Aku hanya menyahutinya sambil tetap menggoreng lauk pauk hari ini.
Mungkin saja tidak sabar, Abyan berlari ke dapur dan memegang pergelangan tanganku sambil merajuk ..
“Ayok, bun… tek tek (baca truk).. ambin teknya tu tu…”
Aku menyahutinya sambil mengecilkan api kompor dan mengikutinya.
Ia membawaku ke ruang tamu dan mengajakku bermain.
Karena tugas masakku belum selesai dan juga takut kesiangan berangkat nguli, aku menyuruhnya membangunkan ayahnya yang masih tidur untuk menggantikanku. ­čśÇ

Aku menggiringnya ke kamar untuk membangunkan ayahnya, dan dia mulai menaiki tubuh ayahnya dan said:
“Ayaah!! Ayaahh!!”
Dan… aku tinggalkan mereka.

Hampir 10 menit, aku sibuk di dapur dan aku tidak mendengar Abyan berceloteh atau lagi bercengkrama dengan ayahnya. Seperti sunyi seketika.
Dari dapur, aku memanggil si jagoanku yang sekarang sudah dua tahun satu bulan ini.
Tak ada sahutan.
Aku beranjak dari dapur, masih dengan memanggil-manggil namanya.
Pertama yang aku datangi kamar depan.
Aku kaget karena hanya menemukan ayahnya yang ternyata masih tertidur.
Aku sudah mulai shock.
Aku berlari ke ruang tamu.
Juga tidak aku temukan anakku.
Oh! perasaanku mulai naik turun.
Aku lari ke depan.
Tak kutemukan Abyan bermain di sana juga di halaman rumah kontrak ini.

Aku kembali ke kamar dan membangunkan ayahnya. Yang akhirnya juga shock mendengar Abyan tidak ada di rumah.
Aku lalu ke kamar belakang, juga tidak ada Abyan. *aku benar-benar sudah dag dig dug.. Pikiranku sudah kemana-mana… Seperti :
“Oh, apa iya anakku diculik?”
“Lagian maling anak mana kok nyuliknya pagi bener?”
“Masa iya Abyan di bawa orang g bilang-bilang”

Saking paniknya, dapur juga aku datangi, juga tidak ada.
Aku suruh suamiku untuk mencarinya di jalan raya. Karena rumah kontrak ini dekat banget ama jalan raya. Dan si anakku itu suka banget ngeliat Bus, truk, ambulans, mobil patroli, juga mobil-mobil yang lain.
Tapi juga tidak ada.

Dan si Dian datang, sambil menepikan sepedanya dia bertanya.
Langsung saja aku menyuruhnya untuk mencari Abyan juga.
Sambil memanggil-manggil nama Abyan kami berpencar.
Dan Dian bilang:
“Mbaaa… ini Abyan!”
Aku berlari ke ruang tamu dan aku lihat Abyan ada di belakang pintu (yang terbuka dari tadi) sambil duduk jongkok.
“Oh God!! Ya Allah!! Naakkkkkk….” aku berteriak lega dan ingin tertawa juga.

Dari tadi kami memanggil-manggil namanya, tapi dia hanya keep silent aja di belakang pintu.
Dan..posisi itu… menandakan kalau dia lagi pup… ­čśÇ :’D
Jeelaass lah dia tidak mau menyahuti panggilan-panggilan kami, karena pada saat dia pup begitu, dia tidak mau di ajak ngomong dan juga pasti menjauh dari orang-orang dekatnya. :’D :’D

Tapi naakkkkk… kok ya pagi ini mesti sembunyi di belakang pintu sih! :’D :’D bikin geger seisi rumah deh!
Oh, no more ya honey bunny! :’D

Sambil beranjak ke dapur lagi aku bolak-balik said Alhamdulillah karena anakku bukan diculik orang! _ _)”

Berdiri di atas Perbedaan

Apa yang salah dengan perbedaan?
Tidak ada yang salah, jika kita punya sudut pandang yang sama.
Pemikiran yang sepaham.
Cinta dan kasih yang utuh.

Perbedaan bukanlah jurang untuk saling berpisah.
Perbedaan bukanlah alasan untuk tak saling memahami.
Dengan cinta, maka perbedaan akan menjadi sesuatu yang bisa saling melengkapi.

Siska dan Alex.
Mereka teman SMAku dulu, mereka menikah sudah lima tahun dengan perbedaan agama, karena belum dikaruniai seorang anak, mereka memutuskan untuk bercerai. Alasannya sudah sangat jelas, yang ini perbedaannya cukup jauh dan orang tua mereka tidak pernah merestui jika mereka tidak mengikuti agama salah satunya.
Tobi dan Gabriel.
Sahabatku yang selalu ada sampai sekarang. Mereka beda agama denganku, tapi tak menjadikanku juga mereka memilih perbedaan agama dan juga kelas ekonomi untuk tetap bersahabat. Mereka pasangan suami istri yang unik. Karena semakin sering mereka bertengkar, entah masalah kecil ataupun lebih dari kecil, membuat mereka semakin saling mencintai.
Meri dan Aldo.
Pasangan suami istri yang sudah enam tahun menikah dengan banyak perbedaan, tapi mereka tetap berjalan dengan baik. Meri, ibu rumah tangga yang gesit sekali. Dia punya hobi hiking, walaupun anaknya masih 3 tahun, dia tetap rutin untuk hobinya itu. Aldo, seorang suami dan ayah yang pintar memasak, hobinya selain memasak juga pintar bermain musik. Dari kedua hobi mereka saja sudah sangat bertolak belakang.
Pak Darma dan Bu Lessy.
Tetangga sebelah rumah, yang ceritanya sudah menikah dua puluh sembilan tahun lamanya, dengan dikaruniai tiga orang anak, juga masih bertahan dengan perbedaan-perbedaan mereka. Pak Darma adalah seorang laki-laki yang suka ikut kegiatan olahraga apa saja dengan teman-temannya. Dan hampir setiap hari keluar rumah untuk kegiatan olahraganya itu. Sedangkan Bu Lessy, seorang ibu yang berperawakan gemuk itu suka sekali membuat masakan, kue-kue atau semacamnya. Dia sibuk di rumah dengan banyak pesanan catering dari orang-orang kantor suaminya atau relasinya sendiri. Aku tak habis fikir, kenapa Bu Lessy betah dengan suaminya yang suka keluar dan hampir setiap hari keluar?
Reynata dan suaminya Janu.
Sudah menikah selama 10 tahun. Rey punya hobi di dunia fotografi, dan hampir setiap bulan dia punya acara dengan teman-teman fotografinya. Entah masih dekat dengan rumah atau pun di luar kota. Dan dia tetap membawa tiga orang anaknya yang masih di bawah delapan tahun itu. Anak pertamanya baru tujuh tahun, yang kedua lima tahun dan ketiga masih tiga tahun. Sedangkan suaminya, adalah seorang pekerja kantor yang selalu pulang petang. Hampir setiap hari pulang petang. Pulang-pulang sudah banyak keluh kesah. Dan maunya sang istri selalu melayaninya dengan baik. Awalnya memang seperti itu, tapi lama-lama melihat istrinya asyik dengan hobinya, Janu mulai belajar fotografi pada istrinya. Dan sekarang dia mendukung hobi istrinya dengan sepenuh hati. Ah so sweet!
Nuri dan suaminya Rafa.
Adalah pasangan yang aneh. Perbedaan di antara mereka sangat mencolok. Selain mereka dari keluarga yang sangat berbeda, pemikiran mereka juga tidak pernah sepaham, dan tidak pernah bisa untuk saling mengerti. Nuri adalah seorang istri yang bekerja di bidang kesehatan, sedangkan suaminya bekerja di sebuah kantor penyuluhan. Nuri sering mengeluh jika suaminya sering berselingkuh di belakangnya. Sedangkan Rafa adalah tipe suami yang bertemperamental tinggi. Dia tidak suka pada teman-teman tertentu Nuri. Dia juga tidak suka dengan kegiatan di kantor Nuri yang biasanya mereka membawa pasangan masing-masing. Saking kesalnya Nuri dengan tingkah suaminya, ia pun entah memulai dari mana, juga mencari orang yang nyaman dengannya. Tanpa mereka bercerai. Sampai sekarang, keadaan keluarga mereka seperti itu.
Rita dan Dani.
Sudah hampir sembilan tahun mereka menikah. Dan belum dikaruniai seorang anak. Mereka hidup seakan-akan masih seperti pengantin baru. Penuh keromantisan. Dan entah kenapa kadang aku merasa iri melihat mereka. Dan mereka adalah dua sifat yang berbeda. Rita adalah seorang teman yang idealisnya tinggi dan sangat mencintai suaminya. Dia tidak akan percaya pada orang sampai dia benar-benar tahu orang itu sendiri. Sama halnya dengan omongan-omongan orang yang belum tau juntrungannya. Suatu hari, ada seseorang yang aku kenal menceritakan sesuatu yang membuatku shock. Setelah aku menceritakannya pada Rita, dia menolak ceritaku dengan kukuhnya. Ya, itu memang dia. Aku tidak marah, hanya saja tidak suka akan sifatnya yang sok tegar itu.
Dani adalah sosok yang terlihat berwibawa, di depan istrinya juga keluarganya. Tapi tidak sedikit teman-temannya tahu sifat Dani di luar rumah. Hingga pada sebuah cerita yang membuatku shock itu. Ah, Rita! Dia rela tersakiti demi tetap berjalan bersama Dani.
Rama dan Sinta.
Lima belas tahun umur pernikahan mereka. Dan dikaruniai dua orang anak. Sinta┬áadalah guru Sosiologi di sebuah SMA di kota ini. Dia seorang yang styles. Aku pun suka melihat cara berpakaiannya dan juga cara bergaulnya dengan teman-teman kerjanya ataupun dengan tetangganya. Salah satunya aku. Dia adalah wanita yang sangat ramah. Hampir tak pernah pudar senyumnya itu menyapa setiap orang. Sedangkan Rama, pegawai PLN yang sering pulang malam. Seorang ayah yang kurang waktunya untuk anak-anaknya. Seorang suami yang dingin di hadapan istrinya. Walaupun mereka sudah lima belas tahun menikah, tapi Rama masih banyak tertutupnya terhadap istrinya. Seakan-akan dia masih pacaran saja. Dan aku heran, kenapa Sinta betah untuk tidak bertanya banyak pada Rama, agar Rama mau menceritakan banyak cerita pada istrinya. Bukan sekedar menceritakan “aku capek seharian banyak kerjaan di kantor”. Tapi Sinta masih bertahan dengan terus meladeninya bak Raja. Dia selalu menyiapkan makan untuk suaminya itu. Dia selalu menyempatkan diri untuk acara-acara di kantor suaminya itu.

Melihat hobi mereka, atau perbedaan-perbedaan mereka, aku sudah pusing memikirkan bagaimana mereka bisa sepaham untuk mengerti hobi masing-masing, atau perbedaan masing-masing. Ah, betapa mereka kuat untuk bertahan. Dengan keadaan yang justru membelenggu bahkan menyiksa batin mereka. Kecuali memang akhirnya setiap pasangan saling mengerti dengan penuh keikhlasan.

Oya aku sendiri adalah seorang istri dan juga seorang ibu dari dua anakku. Aku bekerja di sebuah stasiun radio swasta di kotaku. Menjadi penyiar yang sering menghibur pendengarnya adalah pekerjaanku setiap hari. Dan di rumah, aku tetap seperti itu. Mencoba menjadi nyaman di antara suami dan juga anak-anakku. Karena aku sendiri adalah orang yang keras. Bukan wanita yang penuh kelembutan. Beda dengan suamiku, Haris. Dia adalah suami yang penyabar. Dan tidak pernah berkata kasar di depanku atau pun anak-anakku. Selama lima tahun, itulah sosok dia yang aku kenal. Suamiku adalah seorang pegawai Bank yang sering pulang malam.Tapi selama dia masih peduli dengan istri dan anak-anaknya, aku tidak pernah protes. Selain pegawai bank, dia suka sekali memotret. Spesialisnya adalah model. Ah, sempat bertengkar juga karena hobinya tidak sejalan dengan keinginanku. Karena, melihat model-modelnya saja sudah membuatku cemburu. Bagaimana tidak? Hampir 90% model yang siap di foto dia mengenakan rok mini, baju atau dress leher V. Atau dengan kancing yang terbuka dua buah lah.
Aku sendiri, hobiku adalah menulis cerita. Entah cerpen atau pun novel. Untuk hobiku, aku masih share via online. Belum ke tingkat percetakan. Tapi itu adalah cita-citaku sampai sekarang. Haris tidak pernah protes dengan hobiku. Karena dia tahu menulis itu butuh ketenangan dan juga pikiran yang fresh. Dia akan membiarkanku menulis sampai aku lelah sendiri, walaupun belum rampung. Egois mungkin. Bukan mungkin. Tapi memang. Ah! Hanya saja aku belum bisa menerima dia menjadi fotografer di genre itu. Sampai pada suatu hari dia belajar di genre lain. Jelas untuk menghargai keinginanku. Aku akan mendukungnya sepenuh hati, tapi tidak untuk di genre Sexi model.
Apa masih egois?

Kau dan Waktu

October 7, 2010, 9:00 pm

Bingkisan hatimu terpecah Berai

namun tak berkeping

Usah kau tersenyum

Saat bimbang kau dekati

Usah kau kuatkan angkuh hati

Saat kau ingini

Ambillah satu yg kau yakini

Agar kau benar untuk peduli

Pilihan bukan desiran waktu

Berdiam tak kan sampaikan sesuatu

Karena waktu esok akan mengkhianati Rasamu yg sudah berlabuh”

Kekuatan Cinta

Aku sungguh mengatasnamakan cintaNya

yg memberikan cinta kepada kita

walaupun tak harus MEMILIKI.

Aku sudah meyakini cinta yang semakin kuat

walau akhirnya tak saling MEMILIKI.
Aku sungguh tau

Cinta itu, kekuatannya hingga meremukkan kesadaranku, kewarasanku…

Hingga meleburkan tulang sekalipun.

Hingga aku tak kuasa untk berdiri angkuh lagi..

November 12, 2010 at 7:51pm

Terpendam

wahai lelaki…
dengarkan detak jantungku menggema d ujung dadaku…

setiap butir rindu yang kau simpan,
mana bisa kulihat bila kau menjubahinya

kini,
apa yang aku dengar?

tetesan-tetesan keberanian itu mencipta katamu
mendesirkan setiap getaran ini
menyumpat wajarku terhadapmu…
July 24, 2010 at 8:00am

Berlalu

Itu berlalu…
namun penuh arti…
hati yang hebat…
cinta yang sudah hilang dari intinya…
merubah dari yang tak biasa menjadi terbiasa…
entah itu baik…
entah juga buruk…
Lalu…sakit.
Sakit tak pernah takkan menyapa jika kita jatuh cinta…
walaupun dia tahu, jika kita sakit…jiwa ini mustahil untuk waras memikirkan apalagi memutuskan, demi yang tercinta…

July 22, 2010 at 12:25am

Agh…

Agh…
cinta kadang adalah malu
karena malu itu adalah kejujuran
agh…
cinta bukanlah hawa ataupun nafsu untuk dicumbu
karena merayu tak ujung untuk bersatu
agh..
cinta itu sekatan
bukan!
namun penyatu dari perbedaan
bukan!
tapi rasa untuk disuguh

agh…
cinta itu bukan sebuah lukisan
yang hanya diam untuk dilihat
dia lebih indah jika dicipta
agh…
cinta memang tak pernah utuh
karena dia bukan untuk dimiliki
tapi di hayati
hingga ke relung hati
hingga jauh itu terasa dekat
hingga hitam itu terasa terang
hingga ungkapan itu seakan membisu…

July 19, 2010 at 3:34am

Inikah Rindu dan Cinta yang salah? #3

“Hai, Cinta!” seru Yolanda pada Moza.
“Haii!~” balas Moza dengan mimik cerah dan senyuman manisnya yang terlihat gurih sore ini.
“Sit down, please! Mau kopi apa coklat panas?” Yolanda mempersilahkan Moza duduk dan menawarkannya minuman untuk sahabatnya ini.
“Seperti biasa saja lah..” jawab Moza seraya masih dengan senyumannya yang terlihat lebih cerah. Yolanda memandanginya dengan senyuman lebar sambil dia memanggil bibi Sumi untuk membuatkan minuman.
“Sepertinya, sudah ada yang bisa move on kembali nih” goda Yolanda. Moza tertawa ringan sambil melepas topinya.
“Well, seperti yang terlihat. So far, aku harus welcome ama semua. Dan memang butuh waktu untuk bisa berkata ‘Aku Bisa’!”
“Nah… aku seperti melihatmu bangkit dari kubur.” goda Yolanda sambil tertawa.

Mereka terdiam sesaat saat bibi Sumi meletakkan minuman mereka.
“Oya, bagaimana kabar Fatur?” tanya Yolanda
“Yaahh… kalau memang ini adalah pilihan untuk berpikir smart, aku harus bisa menerima dia apa adanya. Walaupun dia masih belum dewasa dalam semua hal.”
“Proseess…” sela Yolanda
“Iya, I know” jawab Moza
“Dan Dia?” tanya Yolanda lagi
Moza diam sesaat sambil tersenyum.
“Aku tidak melupakannya. Aku hanya menghargai rasa kita yang pernah ada. Ya, jujur sih…memang sakit rasanya sebelum move on. Tapi.. aku harus sadar, Yol. Aku masih punya Fatur. Bagaimana pun dia,” Moza menerima acungan jempol dari Yolanda.
“Oya, Za… seperti yang kamu tahu, Jika laki-laki lain selain suamimu mencintaimu seperti dia, itu bukan kesalahan siapapun. Bukan kamu juga bukan dia. Tapi… perlu kita ingat saja. Cinta itu datangnya tiba-tiba dan tidak kenal waktu atau pun umur. Hanya satu yang menguatkan setiap hati. Keyakinan dan Kesetiaan. Jangan lelah untuk sabar dalam menghadapi pasangan, jangan lelah dalam menghadapi masalah yang ada, pastinya untuk diselesaikan secara baik-baik. Pasti ada jalan dari setiap kesulitan. Jangan pernah lelah juga untuk saling menerima, mengerti, memahami, dan saling percaya”
Moza mengangguk dengan senyuman lebarnya.
“Dan… doa itu adalah yang utama. Yah…walaupun aku bukan umi Pipik, setidaknya kamu harus masukin wejanganku ini di hati kamu” Moza tertawa renyah sambil memeluk sahabatnya itu.
“By the way, salam untuk Fatur ya… kapan-kapan ajak dia kesini juga..tapi nanti kalau suamiku datang dari Jakarta” sambil tertawa, Yolanda memukul lengan Moza.
“Ok bos!” jawab Moza
“Oya, salam juga untuk Dewa… semoga dia bahagia dengan keluarganya. Ini bukan pengkhianatan nyata, tapi kekhilafan hati yang tak bisa dipungkiri, saat itu akan menjadikan hubungan antara kamu dan dia menjadi relasi yang baik. Lupakan, ah nggak perlu juga dilupakan, hanya teruslah berkomunikasi, seolah-olah kalian adalah teman karib. Bukan orang yang ingin berkhianat di atas nama pernikahan kalian masing-masing. Dan terima kasih sudah membuat sahabatku mengenal akan pengalaman hidup Bab 3”
“Haha… lama-lama aku jadi pasien kamu beneran ini” ┬áseloroh Moza sambil melempar Yolanda dengan topinya. Yolanda membalas tawa Moza.
“Oya, bagaimana jika rindu itu tiba-tiba ada?” tiba-tiba Yolanda menanyakan pertanyaan yang membuat Moza berhenti menyeruput kopinya.
“Hmmm.. mungkin aku sampaikan sama dia. Bukan untuk agar dia membalasnya dengan apa-apa. Hanya..biar lega saja perasaan itu. Hehe..benar nggak tuh?” jawaban Moza membuat Yolanda bernafas lega sambil menganggukkan kepalanya.
“Za..hidup itu banyak Chapternya, suatu saat nanti, kamu akan temukan Chapter terakhir dari pernikahanmu kelak. Aku berdoa semoga yang terbaik untukmu dan Fatur ya”
“So do I, Yol. Aku juga akan selalu mendoakanmu. Yang terbaik.” balas Moza sambil memeluk kembali tubuh mungil Yolanda.

#THe ENd

Inikah Rindu dan Cinta yang salah? #2

“Aku sudah sampai pada titik mana?”
sembari menghembuskan nafasnya yang berat Moza menyeruput kopi lattenya yang masih panas. Yolanda yang dari tadi asyik dengan notebooknya sementara memperhatikannya. Sahabat yang satu ini, sudah dari dua bulan yang lalu tidak pernah memberinya kabar lagi tentang hatinya.
“Sampai dimana kemarin?” tanyanya pada Moza
Lagi, Moza menghembuskan nafasnya yang berat.
“Sepertinya, aku sampai pada ruang yang menghancurkan hatiku.”
“Aku…” Moza berhenti sejenak, dia menghela nafas berat.
“Dia..sudah jauh rasanya. Dan mungkin sudah…”
“Ah…aku ngga tau, Yol… tapi hatiku rasanya sakit dan hampir meledak” mata Moza terlihat berair, tatapannya seperti menahan kesakitan berhari-hari.
“Hanya perasaanmu saja, atau dia memang menjauh?”
“Mungkin hanya perasaanku saja, tapi dia memang sudah menjauh. Aku melihat perbedaan itu, walaupun dia dulu selalu bilang akan tetap seperti yang dulu”
“Hmmm…” Yolanda menggumam sambil meremas tangan Moza.
“Makin singkat, bukan?” tanyanya pada Moza.
Moza hanya mengangguk dengan mimik sedih.
“Makin jauh, makin singkat dan lama-lama akan pergi… dan yang pasti, akan meninggalkan rasa sakit.”

Mereka terdiam. Meja itu masih dengan dua cangkir kopi yang masih panas.
“Oya, bukannya kamu pernah cerita bahwa dia pernah mengajakmu serius?” Moza mengiyakan pertanyaan Yolanda.
“Aku rasa dia tidak seserius kata-kata yang dia tawarkan padaku. Kalau memang serius, serius ditingkat yang mana? How’s his famz, Yol? He never leave them just for this love. So do I. Dan bagaimana aku bisa langsung mengiyakan kata serius itu? Sedangkan aku, aku sudah memulai lagi dari awal”
“Maksudnya?” tanya Yolanda sambil mengangkat alisnya.
“Aku ingin kembali memenuhi rasa-rasa yang hilang atas suamiku, Yol”
“Dan?”
Lagi-lagi Moza menghembuskan nafas beratnya.
“Dan tidak mudah untuk memulai dari awal lagi. Apalagi aku dan Fatur sama-sama ke lain hati” Moza meyeruput kembali kopi Lattenya.
“Za..pernah dengar kan? Api itu tidak bisa dipadamkan dengan api. Api yang makin tinggi juga tidak bisa dipadamkan dengan hanya satu timba.” Yolanda tersenyum sambil menatap sahabatnya.
“Bagaimana dengan Dewa?” tanya Moza, dia mengalihkan pembicaraan.
“Kalau memang dia serius, dia tidak akan berhenti di titik itu. Tapi kamu juga akan semakin bimbang dengan sebuah pilihan. Dan kalau dia semakin menjauh, kamu tidak akan mengejarnya jika kamu kuat untuk bertahan. Karena banyak wanita, didekati dia takut, dijauhi dia semakin takut untuk ditinggalkan.”

Moza menghabiskan kopinya. Seperti gerah dia mendengarkan wejangan dari Yolanda.
“Obat sakit hatimu itu hanya satu. Jangan terlalu memikirkannya.” Moza mengangkat alisnya.
“Iya. Kalau kamu semakin menjauhinya kamu akan semakin memikirkannya. Kalau kamu semakin memikirkannya, kamu akan semakin sakit hati.” Moza hanya bisa menghembuskan nafas berat mendengarkan kata-kata Yolanda.
“Entahlah… sepertinya aku berat untuk tidak memikirkannya.”
Yolanda hanya tersenyum mendapati jawaban sahabatnya.
“Za.. ingat.. kalau hanya kamu yang memikirkannya, hanya kamu yang akan sakit.

*to be continous

Terbakar Rindu

Aku terbakar rindu

saat bayangmu pelan ÔÇôpelan

merasuki jiwaku

nafasku terhenti terhambat nadi

jantung beruah rasa

tak bersambut ragamu

bagai menyamai malam

pulau seribu sepi

menghembus angin gurun

yang bekukan diri

aku mati beku

dari rindu yang tak berujung

menyelusup lewati sadarku

menembus semua detakku

dan aku masih merindumu, lelaki

@Rei Sulistyoningsih
Poem 2012